Nuansa Ramadhan dalam Lapas : Peran Stakeholder dalam Pembinaan Narapidana

Salah satu kegiatan agama di Lapas untuk menambah amalan ibadah di Bulan Ramadhan. Foto. Indodaily

Oleh : Muhammad Salim Jindan, Mahasiswa Politeknik Ilmu Pemasyarakatan

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang memiliki keberkahan dan keutamaan di dalamnya. Setiap umat Islam di Bulan Ramadhan diwajibkan untuk berpuasa dan disunnahkan melaksanakan ibadah rutin seperti Tadarus Alquran dan Sedekah. Setiap Umat Islam sangat menantikan hadirnya Bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan menciptakan kebahagiaan tersendiri dalam beribadah bagi umat Islam. Tak terkecuali, warga binaan pemasyarakatan yang sedang menjalani masa pidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Bulan Ramadhan menjadi bulan yang paling dinanti oleh warga binaan Lapas.

Mengapa demikian? Karena ketika Bulan Ramadhan datang, Lingkungan Lapas menjadi penuh dengan hal positif. Bulan Ramadhan membawa keutamaan dan keberkahan dalam menjaga tali kekeluargaan antar sesama warga binaan pemasyarakatan. Ketika Bulan Ramadhan, pihak Lapas akan mengadakan banyak kegiatan pembinaan keagamaan dan kegiatan lainnya dalam menyambut keberkahan bulan Ramadhan.

Direktorat Jenderal Pemasyarakatan sebagai Subsistem peradilan yang menjalankan fungsi pemidanaan kepada Warga Binaan Lapas tentu harus menjaga keseimbangan hak dan kewajiban yang dimiliki oleh warga binaan Lapas.

Sesuai dengan UU No 22 Tahun 2022 tentang pemasyarakatan, dalam pasal 4 disebutkan bahwa pemasyarakatan memiliki fungsi pelayanan, pembinaan, pembimbingan kemasyarakatan, perawatan, pengamanan, dan pengamatan terhadap warga binaan pemasyarakatan.

Tentunya, fungsi pemasyarakatan tersebut dibarengi dengan pemenuhan hak dan kewajiban warga binaan Lapas.Contohnya dalam Pasal 9 poin a dan c disebutkan, narapidana atau warga binaan Lapas berhak menjalankan ibadah sesuai agamanya dan berhak mendapatkan pendidikan, pengajaran, dan kegiatan rekreasional serta kesempatan mengembangkan potensi. Oleh karena itu, Pihak petugas Lapas wajib memenuhi hak yang dimiliki warga binaan pemasyarakatan.

Di Bulan Ramadhan ini terdapat banyak kegiatan positif di dalam Lapas yang mungkin tidak diketahui masyarakat. Di sisi lain, stigmatisasi negative terhadap Lapas masih banyak terdengar di dalam lingkungan masyarakat.

Akan tetapi, dengan penyebaran informasi tentang kegiatan positif ini, diharapkan masyarakat mengerti dan paham akan fungsi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam menjaga hak warga binaan pemasyarakatan yang wajib dijunjung tinggi.

Kegiatan Bulan Ramadhan di Lapas mayoritas diisi dengan pembinaan kerohanian. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ibadah pada pribadi warga binaan pemasyarakatan.

Kegiatan pembinaan kerohanian yang dilaksanakan seperti shalat wajib dan tarawih berjamaah setiap harinya, tadarus dan tahfidz Al-quran, serta kegiatan rutin shalawatan ketika menunggu buka dan sahur bersama.

Di sisi lain, pihak petugas Lapas juga memegang peran penting dalam menciptakan hubungan kekeluargaan yang positif antar petugas dan warga binaan Pemasyarakatan. Kegiatan yang dilakukan dapat berupa buka dan sahur bersama antar petugas dan warga binaan Lapas.

Hal ini dapat mengubah mindset negative warga binaan Lapas tentang keadaaanya yang tidak penting menjadi penting dalam lingkungan Lembaga Pemasyarakatan.

Tak hanya kegiatan itu, terdapat juga kegiatan perlombaan agama islam seperti lomba adzan, tausiyah, cerdas-cermat agama Islam, dan lomba lainnya yang dapat menumbuhkan motivasi beribadah dan aktif dalam kegiatan bagi warga binaan pemasyarakatan

Di sisi lain, pembinaan jasmani juga dijalankan selama Bulan Ramadhan. Contohnya kegiatan olahraga dan ngabuburit sambil menunggu adzan maghrib yang dilaksanakan di dalam Lapas. Kegiatan ini sangat penting dalam menciptakan nuansa kekeluarga antar warga binaan Lapas dan petugas Lapas.

Lantas, dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan positif ini, apakah pihak petugas Lapas bekerja independent? Tentu jawabannya tidak. Pihak Petugas Lapas akan bekerja sama dengan Stakeholder-stakeholder yang memiliki peranan dalam menciptakan efektifitas dari program yang dijalankan.

Contoh konkretnya adalah kerja sama Lapas dengan Kementerian Agama setempat dalam melaksanakan program pembinaan kerohanian kepada warga binaan pemasyarakatan.

Pihak Kementerian Agama setempat akan menunjuk utusan pemuka agama yang akan mengisi dan memimpin kegiatan keagamaan yang ilaksanakan di Lapas selama Bulan Ramadhan.

Di sisi lain, pihak Lapas juga dapat menunjuk warga binaan yang memiliki pemahaman agama islam yang lebih dibanding warga binaan lainnya untuk memberikan pendampingan kepada pihak eksternal dalam menjalankan program pembinaan kerohanian islam yang dilaksanakan.

Adapun stakeholder penting lainnya, pemerintah setempat. Pemerintah setempat wajib memberikan dukungan dan bantuan dalam pelaksanaan program pembinaan kerohanian Islam ini sebagai wujud transparansi pemenuhan hak masyarakat tanpa terkecual. Tujuannya untuk menghilangkan stigmatisasi negatif masyarakat terhadap kehidupan warga binaan Lapas.

Dengan begitu, tujuan utama Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam menciptakan reintegrasi sosial bagi warga binaan pemasyarakatan akan terlaksana dengan lancar.

Dalam penyebaran dan transparansi informasi ke publik, peran pihak media baik media sangat penting. Sebab media sebagai salah satu stakeholder yang dapat menciptakan stigmatisasi positif pada masyarakat terhadap kinerja petugas Lapas melalui penyebaran informasi yang dijalanakannya. Tentunya penggunaan diksi kata dan informasi harus selalu beraspek positif dan tidak menimbulkan ambiguitas di dalam pemikiran masyarakat.

Peran Masyarakat sebagai salah satu stakeholder juga sangat penting dalam pelaksanaan kegiatan Bulan Ramadhan ini. Contohnya petugas Lapas dapat mengajak warga setempat untuk shalat tarawih bersama dan ngabuburit bersama dengan warga binaan Lapas untuk menciptakan nuansa kekeluargan dan saling memiliki baik lingkungan di dalam maupun di Luar Lapas.

Di sisi lain, masyarakat juga dapat mengetahui bagaimana program pemidanaan yang dilaksanakan didalam Lapas sebagai wujud transparansi Ditjenpas kepada publik.

Oleh karena itu, pihak Lapas wajib mengkolaborasikan dan mengoordinasikan peran setiap stakeholder dalam menciptakan efektifitas program kegiatan pembinaan selama Bulan Ramadhan agar dapat terlaksana dengan baik dan lancar.**

Admin

Media Online From Palembang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *