Hadapi Tantangan Global, TNI Perlu Melakukan Deterrence

PETA WILAYAH – Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Dalanud) Sri Mulyono Herlambang (SMH) Palembang, Kolonel Pnb Rizaldy Efranza, S.T., MNSS (paling kanan) sedang menjelaskan gambar lokasi dan wilayah Lanud SMH Palembang kepada Pegurus Wilayah (PW) Ikatan Wartawan Online (IWO) Sumatera Selatan (Sumsel), saat bersilaturahmi ke Lanud SMH Palembang, pekan silam, Jumat (9/02/2024).

PALEMBANG | KabarSumatera. Com – Di tengah berkembangnya tantangan global dalam upaya pertahanan dan keamaman Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Tentara Nasional Indonesia (TNI) perlu melakukan deterrence (daya ancam).

Hal itu dikatakan Komandan Lapangan Udara (Lanud) Sri Mulyono Herlambang (SMH) Palembang, Kolonel Pnb Rizaldy Efranza, S.T., MNSS, saat menerima kunjungan Pegurus Wilayah (PW) Ikatan Wartawan Online (IWO) Sumatera Selatan (Sumsel), Jumat (9/02/2024).

Lebih lanjut, Rizaldy menjelaskan, secara harfiah, sebagaimana disebutkan di beberapa referensi, deterrence merupakan sebuah penangkisan, penolakan atau pencegahan.

Strategi untuk Mencegah

Menurutnya, deterrence sebagai salah satu strategi untuk mencegah terjadinya perang dengan cara ‘mengecilkan hati’ lawan (negara lain) yang mencoba menyerang, tanpa harus membunuh orang.

SILATURAHMI – Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Danlanud) Sri Mulyono Herlambang (SMH) Palembang, Kolonel Pnb Rizaldy Efranza, S.T., MNSS, dan Ketua Pegurus Wilayah (PW) Ikatan Wartawan Online (IWO) Sumsel, Efran, saat bersilaturahmi ke Lanud SMH Palembang, Jumat (09/02/24). Foto : Penlanud SMH Plg

Mengapa harus dilakukan Deterrence? Menurut Rizaldy, salah satunya bagian strategi upaya pertahanan negara secara psikologis. Sehingga semua upaya untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara ini, bisa terwujud tanpa harus ada korban nyawa.

Deterrece itu strategi penggentaran, yang dapat diartikan daya ancam, sebagai upaya untuk mencegah pihak musuh melakukan suatu tindakan tertentu yang dapat merugikan kita, termasuk misalnya kita buat event Air Force Festival, juga bagian itu,” tegasnya.

Mempertahankan Kedaulatan NKRI

Pada silaturahmi itu, PW IWO Sumsel juga mendapat “kuliah gratis” tentang pertahanan negara. Rizaldy menjelaskan, pertahanan negara merupakan segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

Oleh sebab itu, maksimalisasi kesadaran masyarakat dalam pertahanan negara ini harus dilakukan secara kolaboratif oleh semua pihak, sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing, baik secara pribadi maupun kelompok di masyarakat.

FOTO BERSAMA – Usai silaturahmi, Ketua IWO Sumsel didampingi Sekretaris IWO Sumsel, Imron Supriyadi, S. Ag, M. Hum, dan Bendahara IWO Sumsel (Yulie Afriyani) melakukan foto bersama dengan Danlanud SMH Palembang, Kolonel Pnb Rizaldy Efranza, S.T., MNSS, didampingi Kadisops Letkol Pom Lukman Hakim, Kadispers Mayor Adm Mujiono, S.T, Kadislog Letkol Kal Yohanes Suhendar,S.E, Kadispotdirga Letkol Pas Catur Yanuar Prajoko,S.Pd,  Dansatpom Mayor Pom Ashanul Arifin, dan Pgs Kapen.

“Dalam pemberitaan, IWO Sumsel bersama anggotanya, juga harus ikut serta memberitakan tentang pengetahuan pentingnya pertahanan negara ke masyakarat,” tegasnya saat memberikan penjelasan dihadapan Pengurus Wilayah IWO Sumsel di Mako Lanud SMH Palembang, Jum’at (09/02/24).

Menurutnya, ancaman terhadap negara ini bisa datang kapan saja, dari mana saja, dan kepada siapa saja. Oleh sebab itu, upaya antisipasi dalam mempertahankan keutuhan bangsa dan negara, kata Rizaldy, harus banyak diketahui oleh semua warga.

“Inilah pentignya, mengapa kita perlu melakukan kolaborasi dengan semua pihak, dalam melakukan penyadaran masyarakat, dan generasi melineal terhadap pentingnya pertahanan negara,” terangnya.

Adanya Ancaman

Tujuannya, menurut Rizaldy, agar semua pihka ikut bertanggungjawab terhadap kemungkinan adanya ancaman terhadap negeri ini.

“Kita sekarang duduk di sini, atau masyarakat yang sedang beraktifitas di luar sana bisa dengan tenang dan aman! Apakah mereka tahu kalau misalnya saat ini sedang ada ancaman dari luar?! Pasti tidak tahu. Itulah kenapa harus dilakukan patroli di semua perbatasan wilayah oleh TNI, baik perbatasan laut, udara dan darat. Tujuannya agar masyarakat tenang dalam menjalankan aktifitas keseharian. Ini yang tidak banyak diketahui oleh masyakarat pada umumnya,” tegasnya.

Rizaldy menambahkan, selama ini mungkin ada diantara masyarakat yang masih menilai TNI hanya menjalankan rutinitas kegiatan secara prosedural, sesuai tugas dan pokok fungsinya (tupoksi) saja. Sementara kegiatan lainnya, mungkin dianggap tidak ada.

“Satu ketika ada salah satu orang yang bertanya kepada saya. Pak, sekarang di negara kita kan tidak ada perang, lalu tentara kerjanya apa, kan negara kita aman-aman saja, Pak?! Ini hanya satu contoh saja pertanyaan dari masyarakat, yang mungkin masih awam tentang pertahanan negara tadi,” ujarnya.

Menurut Rizaldy, pertanyaan diatas muncul, karena masyarakat memaknakan perang identik dengan tembak-menembak seperi perang dunia I & II. “Atau yang dibayangkan kalau perang itu seperti di Jalur Gaza atau di Ukraina,” ujarnya.

Dalam keadaan saat ini, menurut Rizaldy, perang tidak selalu berkaitan dengan konflik fisik, atau berhadapan langsung satu lawan satu (face to face).

Pada tantangan zaman yang kian berkembang, ujar Rizaldy, perang juga mengalami pergeseran (shiffting) paradigma.

Perang dalam bentuk Lain

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptel), Rizaldy menegaskan, perang bisa saja dalam bentuk lain. Disebutkan dalam sejumlah literatur, perang di era teknologi seperti sekarang ada istilah; perang asimetris, perang ideologi, perang pola pikir (mindset), perang informasi, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Hal diatas, disebut Rizaldy menjadi bagian dari ancaman terhadap keutuhan NKRI yang harus diantisipasi, baik secara ekonomi, politik dan kebudayaan.

“Makanya tantangan TNI di era seperti saat ini tidak ringan. Karena majunya teknologi informasi dan komunikasi global seperti saat ini, tidak akan mudah dideteksi, sehingga konsep perang juga mengalami perubahan pola yang transformatif. Tentunya, dalam menghadapi segala keadaan, strategi pertahanan untuk bertindak efektif dan efisien juga sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Berupaya Konsisten

Merespon penjelasan itu, Efran menegaskan PW IWO Sumsel beserta anggotanya siap bersinergi untuk ikut serta melakukan pencerdasan masyarakat, terutama berkaitan dengan penjelasan pentingnya pertahanan negara.

Sebab menurut Efran, hal itu juga menjadi bagian dari visi dan misi IWO Sumsel, yang tetap berupaya secara konsisten untuk mendorong terwujudnya pers yang tetap membangun peradaban dan kemanusiaaan.

Pada silaturahmi itu, Ketua IWO Sumsel didampingi Sekretaris IWO Sumsel, Imron Supriyadi, S. Ag, M. Hum, dan Bendahara IWO Sumsel (Yulie Afriyani).

Sementara, Danlanud didampingi Kadisops Letkol Pom Lukman Hakim, Kadispers Mayor Adm Mujiono, S.T, Kadislog Letkol Kal Yohanes Suhendar,S.E, Kadispotdirga Letkol Pas Catur Yanuar Prajoko,S.Pd,  Dansatpom Mayor Pom Ashanul Arifin, dan Pgs Kapen.**

TEKS : RELEASE PW IWO SUMSEL | FOTO : PENLANUD SMH PLG

Admin

Media Online From Palembang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *